Mitos dan Fakta Seputar Kolesterol yang Harus Anda Tahu

Mitos dan Fakta Seputar Kolesterol yang Harus Anda Tahu

Mitos dan Fakta Seputar Kolesterol yang Harus Anda Tahu. Banyaknya informasi yang beredar mengenai berbagai pantangan yang harus dihindari agar tidak kolesterol tubuh tetap normal, membuat kita kebingungan melakukan tindakan. Informasi tanpa berdasarkan fakta hanya akan menjadi informasi yang tidak benar dan berkembang di masyarakat.

 

Mitos dan Fakta Seputar Kolesterol yang Harus Anda Tahu

 

Dikutip dari Merdeka.com, berikut ini adalah mitos dan fakta seputar kolesterol yang harus Anda tahu :

Sumber utama kolesterol berasal dari makanan

Faktanya berbicara lain, bahwa kolesterol berasal dari dalam dan luar tubuh. Sekitar 70% kolesterol dibentuk oleh tubuh sendiri. Barulah 30% sisanya berasal dari makanan. Jadi, orang yang kurang makan sumber kolesterol tetap dapat mengalami kolesterol tinggi. Sebaliknya, ada pula orang yang tidak mengalami peningkatan kadar kolesterol, meski mengonsumsi makanan kaya kolesterol setiap hari.

Telur merupakan makanan tinggi kolesterol

Salah. Telur merupakan salah satu makanan tersehat. Si lonjong berkulit cokelat ini mengandung sejumlah vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang penting untuk kesehatan mata maupun otak. Satu telur utuh mengandung 186 mg kolesterol, yang dapat ditemukan pada bagian kuningnya.

Berbagai studi telah membuktikan bahwa konsumsi telur tidak meningkatkan kadar kolesterol secara signifikan, khususnya kolesterol jahat (LDL). Sebagai informasi, kebutuhan kolesterol orang dewasa ialah 300 mg per hari. Dengan demikian, konsumsi satu butir telur utuh sehari sudah dapat memenuhi 62% kebutuhan kolesterol harian.

Para pakar dari Universitas Yale, Amerika Serikat, bahkan menyatakan bahwa mereka yang memiliki penyakit jantung koroner tetap dapat mengonsumsi 2 butir telur utuh per hari selama 6 minggu tanpa mengalami peningkatan kadar kolesterol.

Lemak paling jahat adalah lemak jenuh

Kolesterol yang berasal dari makanan bisa didapat dari sumber lemak jenuh seperti daging merah, susu full cream, keju, dan es krim. Namun, berbagai studi menemukan bahwa konsumsi lemak jenuh tidak terlalu meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), yang dianggap buruk bagi kesehatan. Efek yang ditemukan lemah, tidak konsisten, serta sangat tergantung pada individu. Selain LDL, konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.

Hasil sebuah metaanalisis terkini dari 21 studi menunjukkan, hingga kini belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi lemak jenuh meningkatkan risiko penyakit jantung. Meski demikian, konsumsinya tetap perlu dibatasi, yakni di bawah 10% kebutuhan kalori harian.

Lain halnya dengan lemak trans. Lemak ini merupakan lemak tak jenuh yang telah mengalami perubahan bentuk, yakni dari cair menjadi padat. Pada kemasan produk, lemak ini tertulis sebagai lemak terhidrogenasi parsial. Lemak inilah yang paling berdampak buruk bagi kesehatan, sebab konsumsinya berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, kanker, dan stroke. Lemak jenis ini umumnya ditemui pada margarin, makanan kemasan, makanan siap saji, dan kue-kue kering.

Makanan sehat adalah bebas kolesterol

Tidak selalu. Banyak produk makanan yang diklaim rendah kolesterol atau bebas kolesterol namun memiliki kadar lemak jenuh dan/ atau lemak trans yang tinggi. Kadang-kadang, produk yang diklaim rendah lemak pun masih mengandung kadar lemak yang tinggi.

Oleh sebab itu, selalu perhatikan dengan saksama seberapa besar kandungan lemak jenuh, lemak trans, dan total kalori dalam satu porsi sajian. Periksa pula takaran saji produk untuk satu porsi sajian.

Makanan terbaik adalah yang rendah lemak

Tidak juga. Anggapan bahwa makanan rendah lemak lebih sehat membuat produsen makanan kerap menghilangkan atau mengurangi kandungan lemak dari produknya. Yang menjadi masalah, kelezatan makanan jelas berkurang tanpa adanya lemak.

Untuk menyiasatinya, produsen makanan menambahkan sejumlah gula guna mengompensasi lemak yang hilang. Karena itu, bila Anda perhatikan, sebagian besar produk rendah lemak umumnya tinggi gula. Hal ini tentunya lebih berbahaya bagi kesehatan.

Orang kurus tidak memiliki kolesterol tinggi

Fakta menyebutkan, semua individu baik yang gemuk maupun kurus dapat mengalami kolesterol tinggi. Namun, individu yang kurus umumnya lebih kurang waspada tentang tubuhnya, serta cenderung kurang memperhatikan seberapa banyak sumber kolesterol yang dikonsumsi.

Pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang dapat mengonsumsi apa pun yang mereka inginkan namun tetap sehat. Karenanya, periksakan kadar kolesterol Anda secara teratur, terlepas dari berat badan, pola makan dan aktivitas fisik Anda.

Kolesterol tinggi hanya menyerang orang dewasa

Kondisi kolesterol tinggi dapat diturunkan, dan karenanya dapat dialami oleh anak. Kelainan yang disebut dengan familial hiperkolesterolemia ini cenderung tidak terdeteksi sejak dini, sehingga anak-anak yang mengalaminya sangat berisiko terkena penyakit jantung dan stroke di usia muda. Oleh sebab itu, kadar kolesterol perlu diperiksa pada mereka yang :

  1. Memiliki orangtua, kakek atau nenek dengan bukti penyumbatan pembuluh koroner jantung, pembuluh kaki atau mengalami stroke, menjalani prosedur pembuluh koroner seperti operasi bypass atau pemasangan stent dengan kateterisasi jantung, atau mengalami serangan jantung atau kematian jantung mendadak sebelum usia 55 tahun.
  2. Memiliki orangtua dengan riwayat kadar kolesterol total 240 mg/dL atau lebih.

Kolesterol tinggi disertai gelaja-gejala tertentu

Nyeri pada tengkuk, nyeri dada atau pegal-pegal sering dianggap sebagai gejala dari kolesterol tinggi. Padahal, peningkatan kadar kolesterol tidak menimbulkan gejala apa pun. Seandainya timbul gejala, itu merupakan gejala penyakit yang menyertai kondisi kolesterol tinggi, seperti diabetes mellitus atau hipertensi. Untuk mengetahui kadar kolesterol dengan pasti, Anda perlu melakukan pemeriksaan darah di laboratorium.

Itulah mitos dan fakta seputar kolesterol yang harus Anda tahu. Percayalah hanya pada informasi yang berdasarkan fakta bukan anggapan. Informasi yang berkembang di masyarakat itu benar atau salah, sebisa mungkin cari fakta yang sebenarnya, sehingga kita tidak menelan mentah-mentah info tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *