4 Dampak Stunting pada Anak yang Harus Diwaspadai dan Ditangani

4 Dampak Stunting pada Anak yang Harus Diwaspadai dan Ditangani

4 Dampak Stunting pada Anak yang Harus Diwaspadai dan Ditangani. Berbicara masalah stunting sebenarnya masalah yang terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia saja. Stunting banyak terjadi di negara berkembang ataupun negara miskin.

 

4 Dampak Stunting pada Anak yang Harus Diwaspadai dan Ditangani

 

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan dari janin hingga anak usia 2 tahun. Di Indonesia hal ini masih menjadi masalah dengan data dari Kementerian Kesehatan menyebut prevalensi balita stunting tahun 2017 mencapai sekitar 29,6 persen.

Penyebab stunting bermacam-macam tetapi faktor utamanya disebabkan oleh kemiskinan dan minimnya pendidikan gizi para orang tua. Stunting ini menjadi perhatian serius karena menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kondisi stunting yang dibiarkan dapat memengaruhi kemampuan ekonomi suatu negara.

Dilansir dari detikHealth, berikut 4 Dampak Stunting pada Anak yang Harus Diwaspadai dan Ditangani :

Mudah terserang penyakit

Anak yang stunting rata-rata memiliki imunitas lebih buruk dibandingkan dengan anak sebayanya dengan pertumbuhan normal. Hal ini disebabkan karena kondisi kurangnya asupan nutrisi dapat secara langsung memengaruhi kebugaran tubuh.

Menurut dr Meta Hanindita SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya anak yang stunting imunitasnya akan terus terpengaruh sampai dewasa. Penelitian menunjukkan kalau anak-anak yang mengalami stunting pada saat dewasa lebih berisiko terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dan obesitas.

Kemampuan otaknya berkurang

Ketika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik, badan pendek hanya satu dari sekian dampak buruk yang bisa terjadi. Perlu diketahui ketika seorang anak tidak mendapatkan asupan yang baik maka pertumbuhan tubuhnya secara keseluruhan terganggu termasuk organ-organ penting seperti otak.

Menurut Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K), dari Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI-RSCM, anak stunting bisa memiliki kemampuan kognitif yang tidak optimal. Anak yang stunting jaringan otaknya cuma sedikit, sehingga dampaknya pada perkembangan otak dan bisa menyebabkan anak lama mencerna stimulus.

Terhambatnya pertumbuhan ekonomi

Seperti lingkaran setan, stunting dalam beberapa penelitian disebut pada akhirnya bisa kembali menjadi penyebab kemiskinan pada suatu populasi. Alasannya karena dengan kemampuan otak yang kurang dan kecenderungan mudah sakit maka daya saing populasi tersebut jadi lebih rendah.

Prof. Dr. Bambang P.S Brojonegoro, Menteri PPN/Kepala Bappenas mengatakan bahwa untuk individu, stunting akan menimbulkan penyakit, dan ujungnya menurunkan produktivitas. Di sini perekonomian daerah dan nasional akan berdampak.

Berpengaruh terhadap kesuburan

Dampak terakhir yang bisa terjadi bila anak-anak dibiarkan stunting adalah kelak kemampuan reproduksinya akan terganggu. Pada anak perempuan terutama stunting akan meningkatkan masalah komplikasi kehamilan saat dirinya dewasa. Perempuan dewasa yang kurus dan anemia berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi.